Langit seakan terbelah oleh kelopak-kelopak api yang berputar dalam tujuh lapisan, menari di langit dalam pusaran surgawi yang menyilaukan. Bunga api yang terbentuk dari teknik Heavenflame Petal Dance melesat dari tubuh Leena, membakar udara dengan jejak-jejak merah keemasan, seolah hendak meluluhlantakkan seluruh langit.

Salju turun yang biasanya diam abadi di puncak Sekte Pedang Es kini mencair sebelum sempat menyentuh tanah, berubah menjadi uap panas yang mengepul dan membumbung tinggi. Para murid tingkat rendah yang berdiri jauh di bawah, mulai berkeringat deras, wajah mereka pucat oleh tekanan panas yang membakar jiwa. Gunung es yang mengelilingi wilayah itu mulai retak di sisi luar formasi, aliran air panas menetes perlahan dari dinding-dinding salju yang sebelumnya membeku selama ribuan tahun.

“Itu… kekuatan elemen api yang luar biasa…”

“Jika formasi pelindung sekte tidak kuat, seluruh pegunungan sudah meleleh!” seru salah satu tetua sekte dengan wajah ngeri.

Sementara itu, para Immortal dari pihak lawan mulai menyadari bahaya sebenarnya dari keberadaan Leena.

“Kita tak bisa membiarkan ini berlanjut,” geram Immortal bersenjata kapak besar dari Sekte Serigala Baja. “Kalau kita tidak ikut menyerang, mereka bertiga pasti binasa dan rencana kita bisa gagal!”

Immortal tertua dari Sekte Kabut Dingin mengangkat tongkat es raksasanya dan mengaum, “Benar, kekuatan mereka bertiga tak cukup untuk menandinginya. Kita harus bertarung bersama dan secepatnya menyelesaikan ini sebelum sekte lain mengetahui dan merusak rencana.”

Satu per satu para Immortal mengeluarkan kekuatan puncaknya.

“Frost Titan Armor!”

Sosok raksasa es setinggi puluhan meter terbentuk di belakang Immortal Kabut Dingin, menyelubungi tubuhnya dan memperkuatnya dengan pertahanan mutlak.

“Dark Lotus Bloom!”

Immortal dari Sekte Salju Hitam memanggil bunga teratai hitam berduri yang melayang mengelilinginya. Setiap kelopak memancarkan aura kegelapan dan racun spiritual yang bisa melumpuhkan lawan dalam sekejap.

“Celestial Fangs Array!”

Immortal Sekte Serigala Baja memanggil ribuan tombak perak yang mengambang di langit, membentuk formasi seperti taring langit yang siap menghujam kapan pun.

“Crystal Sky Shard!”

Immortal wanita dari Sekte Gunung Giok membentuk mahkota es berkilauan di atas kepalanya, lalu menembakkannya dalam ribuan pecahan ke arah pusaran api Leena.

“Glacial Void Suppressor!”

Immortal dari Sekte Phoenix Hitam menyebarkan sayap es transparan raksasa dari punggungnya. Setiap kepakan menghembuskan hawa dingin dari ruang kosong, membekukan api di sekeliling dan menekan suhu dengan tekanan spiritual yang menggigit, seolah-olah dunia itu sendiri membeku dalam kehampaan es.

“Abyssal Chain of Sealing!”

Immortal terakhir, dari Sekte Lembah Gelap, meluncurkan rantai energi gelap yang memanjang dari bawah tanah, membelit ruang sekitarnya agar Leena tidak bisa bergerak bebas.

Enam Immortal dengan teknik terkuat mereka meluncur ke udara, membentuk formasi mengelilingi Leena dari segala arah.

"Curang, beraninya mereka mengeroyok seorang wanita." seruan dari para murid Pedang Es.

Kedua Leluhur Sekte Pedang Es berniat untuk membantu, namun tiga Immortal lainnya masih menghalangi mereka.

Melihat immortal lainnya ikut turun tangan, Leena menggertakkan giginya, tubuhnya melayang di tengah langit dengan sorot mata yang membara. Dia memperkuat lagi serangannya hingga ke maksimal untuk menghadapi serangan gabungan. Pusaran kelopak api di sekelilingnya bergetar hebat saat benturan demi benturan menghantamnya.

DOOOMM!!!

Ledakan energi maha dahsyat mengguncang langit. Langit retak oleh benturan antara pusaran Heavenflame dan enam teknik terkuat dari para Immortal. Gelombang api dan es menyatu dalam badai yang meledak seperti dunia meledak dari dalam.

Langit berubah kelabu. Tanah di bawah mereka retak dan meleleh dalam lava merah, salju mencair dan berubah menjadi hujan uap panas yang menyiram semua medan pertempuran.

Setelah ledakan mereda, sosok Leena tampak terhuyung di udara. Darah segar menetes dari sudut bibirnya. Api yang menyelimuti tubuhnya bergetar lemah, dan sebagian pakaian yang digunakannya terlihat robek.

“Khk…” Leena terbatuk darah, namun matanya tetap tajam. "Enam orang... melawan satu wanita. Begitu rendahnya kalian…"

Salah satu Immortal tertawa dingin. “Apa kamu lupa? Kami kesini bukan untuk bertarung adil tapi ingin menghancurkan sekte ini.”

“Ketua Sekte Pedang Es. Menyerahlah kalian. Atau kami akan membunuh wanita ini bahkan hingga jiwanya hancur,” ancam Immortal Phoenix Hitam.

Leena mengepalkan pedangnya. Tangannya bergetar, tubuhnya mulai kelelahan. Energi Immortal-nya mulai terkuras, bahkan napasnya tak lagi stabil. Namun dia tidak mundur.

“Aku masih belum kalah…” Leena terbang dengan cepat ke salah satu dari mereka dan mengayunkan pedang, namun mereka semua sudah bersiaga sehingga mampu bekerjasama menghadapi Leena.

Mereka berenam bergerak serempak, membentuk formasi penyerangan mematikan. Serangan bertubi-tubi menghujani dari segala arah, tombak es, sabetan bilah kristal beku, kabut racun membeku, semburan dingin dari ruang kehampaan, serta rantai kutukan yang memelintir udara, semua menari seperti badai maut yang hendak melumat segalanya.

Leena berusaha menghindar, memutar di udara dengan kelincahan yang mengagumkan. Tapi jumlah mereka terlalu banyak, dan ruang geraknya dipersempit oleh teknik segel dan tekanan ruang.

CLANG!

Sebuah rantai spiritual membelit pergelangan kakinya. Sebelum bisa memutusnya, bilah energi dengan cepat meluncur dan akan menghantam bahunya dari belakang.

Namun...

WUUUUSSHHH!!

Sebuah cahaya hitam dan biru melesat bagaikan kilat di tengah-tengah mereka, disertai dentingan keras yang menghantam udara.

CLAAAANGG!!!

Cahaya biru kehancuran terlihat memancar dari bilah pedang dan menghancurkan bilah energi serta rantai spiritual yang mengekang Leena. Pedang tersebut memancarkan aura dingin yang menggigilkan tulang lawan-lawannya. Ledakan aura menghantam balik para Immortal, membuat mereka mundur beberapa langkah.

Sosok misterius berdiri di hadapan Leena. Tubuhnya dilapisi pakaian aneh menyerupai logam hitam pekat, reflektif namun tak memantulkan cahaya, membuatnya terlihat seperti bayangan dari dunia lain. Wajahnya tersembunyi di balik helm dengan visor yang bersinar redup berwarna biru. Di tangannya, tergenggam pedang bercahaya biru dengan ukiran naga yang terlihat seolah hidup.

“Siapa dia…?”

“Apa... itu manusia atau iblis...?”

Namun salah satu immortal mendadak menjerit tertahan. "Pedang itu…! Itu... itu Pedang Kehancuran milik Xiao Tang!"

Para Immortal lainnya menegang serentak.

"Xiao Tang?" tubuh para kultivator menegang. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak mengenali nama tersebut. Sosok jenius yang menjadi legenda ratusan tahun lalu, dia terkenal selalu membunuh lawan-lawannya yang memiliki kultivasi jauh di atasnya tanpa ampun di temani oleh pedang kehancuran.  Sosok yang diakui sebagai pimpinan sekaligus Immortal terkuat di masa itu. Sosok yang memimpin para immortal lainnya menghancurkan Sekte Iblis.

Ratusan tahun lalu, ketika ranah mereka masih belum mencapai Immortal, mereka pernah melihat sepak terjang Xiao Tang membasmi lawan-lawannya dan kenangan tersebut sangat kuat menempel di ingatan mereka.

“Tidak mungkin…Leluhur Xiao Tang sudah lama tewas menghadapi meteor. Bagaimana mungkin...” kata salah satu Immortal.

“Tapi lihat! Itu jelas Pedang Kehancuran milik Leluhur Xiao Tang yang menghilang ratusan tahun lalu!”

"Aku tahu. Bukankah ratusan tahun lalu kita pernah mendengar Xiao Tang ingin mencari penerus dan ada berita siapapun yang menemukan pedang ini akan menjadi penerusnya. Kurasa dia adalah orang yang beruntung menemukan pedang itu."kata Immortal  Kabut Dingin.

Sosok misterius itu berkata perlahan, terdistorsi oleh helm yang ia kenakan.

“Leena. Kita mengejar waktu. Kita harus menyelesaikannya segera.”

Leena yang awalnya terkejut, menunduk dan menurut tanpa berkata-kata. Dengan satu lompatan ringan, dia melayang turun, meninggalkan medan pertempuran di udara.

Salah satu Immortal yang tadi hendak menyerang Leena menggeram, "Jangan pikir bisa lari!"

Dia berniat meluncurkan serangan kuat menuju ke arah Leena untuk membunuhnya.

SHHHNNGGG!!

Namun sebelum serangan berhasil di keluarkan, kepalanya terpisah dari tubuh. Darah menyembur seperti air mancur, mengotori langit salju. Tubuhnya jatuh perlahan, tanpa suara.

Kejadian itu terlalu cepat untuk ditangkap mata biasa. Yang terlihat hanya satu ayunan halus dari pedang pria misterius itu, seolah mengiris angin.

“Pergilah. Aku tidak ingin membunuh kalian.”

Aura pria itu kini menyelimuti seluruh wilayah. Para Immortal mundur sejenak dengan ekspresi terguncang.

“SIAPA KAU?!” teriak salah satu dari mereka dengan wajah pucat. “KATAKAN SEBELUM KAMI MEMBUNUHMU!!”

Sosok itu membalas tanpa mengubah nada suaranya sedikit pun.

“Aku Plasura. Ini peringatan pertama dan terakhir. Pergilah sekarang juga, atau kalian akan mati.”

